Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 November 2011
Hikmah / Haji dan Kesederhanaan
22 November 2011 07:44
Haji dan Kesederhanaan
Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail
Haji mabrur tiada balasannya kecuali surga. (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas). Seseorang yang mabrur hajinya sudah barang tentu akan berperilaku ahli surga di dunia. Ciri-ciri ahli surga secara global adalah ketakwaan dalam hidup. Sedangkan rincian sifat-sifat muttaqin, banyak disebutkan dalam al-Quran. (Lihat QS al-Baqarah [2]: 2-4, Ali-Imran [3]:133-135). Amalan ahli surga semuanya dicintai Allah berbeda dengan ciri ahli neraka. Di antara sifat ahli neraka adalah hidup bermewah- mewahan. "Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah." (QS al-Waqi'ah; 41-45). Bermewah-mewahan dalam hidup akan berdampak negatif bagi dirinya dan masyarakat.
Sebab, pertama, menyebabkan kurang taat menunaikan kawajiban agama.
Kedua, mencari-cari pendapat ulama yang paling ringan dalam segala hal. Dan mudah menerjang yang haram.
Ketiga, bergelayut dengan hal-hal yang remeh-temeh.
Keempat, menimbulkan kerasnya hati, sering melupakan ilmu karena tenggelam dalam kemewahan. Kelima, jarang melakukan muhasabah (evaluasi diri).
Keenam, kurang mampu menanggung beban hidup yang berat dan menghadapi berbagai ujian.
Ketujuh, orang yang bermewah- mewahan sering menyimpang dari jalan yang benar, sombong, dan meremehkan orang lain. Kemewahan dalam hidup bisa menggelincirkan dirinya dalam korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh sebab itu, Islam melarang bermewah-mewahan dalam hidup. "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan, dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih- lebihan." (QS al-A'raf [7]; 31). Rasulullah menegaskan, Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan kesombongan.(HR Ahmad dan Abu Daud). Haji disyariatkan agar umat Islam mengambil banyak manfaat dan hikmah ( QS al-Hajj [22]; 27-28).
Di antara hikmahnya adalah menanamkan dalam diri kita agar memperbanyak zikir, mempererat ukhuwah, membiasakan kesabaran, mengikis rasa kesombongan, mengokohkan kesederhanaan dalam hidup, dan menjauhi kemewahan. Salah satu rukun haji adalah ihram. Saat ihram, laki-laki mengenakan dua helai kain putih yang dijadikan sebagai sarung dan selendang. "Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sendal." (HR Ahmad: 2/34). Diutamakan kain yang berwarna putih, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, "Sebaik-baik pakaian kalian adalah yang berwarna putih, maka kenakanlah dia dan kafanilah mayat kalian dengannya." (HR Ahmad). Adapun wanita, ia tetap memakai pakaian wanita yang menutup semua auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Selama ihram tidak diperbolehkan memakai wangi- wangian kendati tetap harus bersih dan suci. Semuanya itu bertujuan untuk menanamkan kesederhanaan dalam hidup.
Kemabruran haji jamaah yang baru pulang dari haji akan dibuktikan dengan ketakwaan dan kehidupan sederhana setelahnya sampai akhir hayat.
Red: Siwi Tri Puji B
Disarikan oleh : Islam-dialog
Sumber http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/11/22/lv1e1o-haji-dan-kesederhanaan Read More......
Label:
ahli neraka,
ahli surga,
haji,
Hikmah,
islam,
islam-dialog,
kesedehanaan
Rabu, 12 Januari 2011
TAHUN BARU ISLAM
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijri. Biasa disebut dengan "awwalu's-sanah as-syar'iyah" awal tahun yang disyari'atkan. Penamaan bulan-bulan hijriyah sendiri sudah ada sejak penciptaan langit dan bumi (at-Taubah:36). Dalam potongan khutbah Wada'nya di 'Arafah, di hadapan 124.000 jamaah haji tahun ke-10 H, Rasulullah SAW tegaskan kembali soal asal-muasal cerita 12 bulan ini, "sesungguhnya tanah suci Mekkah sudah Allah Ta’ala sucikan sejak diciptakannya langit dan bumi." Demikian Dr.'Abd.Karim Al-Khatib, Tafsirul Qur'an bil-Qur'an, Juz 5:761.
Nabi SAW sendiri menamakannya syahru'l-lâh al-Muharram, yaitu bulan Allah, sesuai bunyi hadits Muslim dari Abu Hurairah, Shahihul Jami':116. Ada kebaikan yang Allah Ta’ala selipkan dalam penyebutan ini. Dari soal khazanah amal sampai suratan hidup dan mati hingga rahasia dunia masa depan (Syeikh Fauzan, Risalah Fi Ahadits Syahrullah al-Haram).
Nabi SAW sendiri menamakannya syahru'l-lâh al-Muharram, yaitu bulan Allah, sesuai bunyi hadits Muslim dari Abu Hurairah, Shahihul Jami':116. Ada kebaikan yang Allah Ta’ala selipkan dalam penyebutan ini. Dari soal khazanah amal sampai suratan hidup dan mati hingga rahasia dunia masa depan (Syeikh Fauzan, Risalah Fi Ahadits Syahrullah al-Haram).
Semua ini merupakan tadzkirah, tanda-tanda zaman yang harus dibaca secara kauni oleh ummat manusia seiring dengan pergantian waktu dari hari ke hari.
Apa rahasia dan hikmah penamaan Syahrullah Al-Muharram itu? Ada 2 hikmah, tulis Imam Ibnu Rajab (736-895 H), pertama, sebagai indikator keagungan dan kemuliaan bulan Muharram. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mengharamkan bulan Muharram. Ini hak Allah Ta’ala, yang lain tidak berhak mengotak-atiknya. Namun kenyataannya, bulan-bulan Allah Ta’ala ini telah digeser otoritinya oleh negara sebagai pihak pertama yang bertanggungjawab. Penanggalan Islam kalah populer dipentas politik dan bisnis. Kalender Islam seperti barang baru muncul kemaren sore. Padahal Kalender Julian (Julius Caesar) baru muncul sebelum Nabi Isa AS lahir, kira-kira 45 tahun sebelum Masehi. Kalender Gregorian yang banyak dipakai dewasa ini baru disahkan oleh Paus Gregorius XIII pada 24 Februari 1582, atas saran dari Dr. Aloysius Lilius dari Napoli, Italia. Kedua kalender ini penuh dengan hawa paganism, syirik dan klenik, karena lahir dari rahim gereja.
Berdasarkan At-Taubah:36, dapat disimpullkan bahwa Kalender Islam yang berbasis perhitungan bulan qamariyah adalah kalender tertua dimuka bumi ini dengan umur antara 29 dan 30, tidak ada tanggal 28 atau 31 seperti Gregorian punya. Khalifah Umar (13-23 H) sebagai deklatornya menjadikan Muharram sebagai awal tahun kalender Islam dengan ivent semangat hijrah Nabi SAW. Pelanjutnya Khalifah Utsman (23-35 H) menjadikan Muharram sebagai ketentuan waktu pembayaran zakat mal untuk memudahkan perhitungan khaul dalam setahun. Imam As-Samarqandi (w.150 H/767 M) seorang faqih Hanafiyah membawakan riwayat tentang penetapan Muharram sebagai bulan zakat, saat itu khalifah Utsman mengatakan, "Bulan Muharram adalah bulan ditunaikannya zakat kalian, karena bulan ini ada di awal tahun, dan aku memandangnya sebagai waktu terbaik untuk mengambil zakat kalian." (Abu Laits As-Samarqandi, Al-Muhadzzab, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi. Juz I:204).
Kedua Khulafa'ur-Rasyidin ini tampaknya memiliki harapan besar dengan menjadikan bulan Muharram sebagai munthalaq tajdid atau starting kebangkitan. Khalifah Umar RA dengan pendekatan semangat jihad dan tauhidnya, sementara Khalifah Utsman RA dengan pendekatan kesejahteraan ekonomi. Saat itu tahun baru Islam atau sistem penanggalan Islam tidak ditetapkan dengan mengambil nama 'Tahun Muhammad' atau 'Tahun Umar', sebagaimana yang biasa berkembang dalam tradisi Barat. Kalender Islam justru ingin menghilangkan unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, seperti pada sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani) yang sarat dengan teologi animisme, kultus dan nafas syirik serta keyakinan lokal yang berseberangan dengan semangat tauhid.
Peringatan Tahun Baru 1 Januari atas dasar Kalender Gregorian (Masehi) adalah piur gereja. Beberapa negara Eropa dewasa ini, ada juga yang berbeda waktu dalam merayakan tahun baru. Gereja Orthodok sendiri sebenarnya lebih menyukai pemakaian kalender Julian (Julius Caesar) daripada kalender Gregorian, dari tahun 45 S.M hingga hari ini.
Mengapa 1 Januari dipilih sebagai hari tahun baru? Di antara tujuannya supaya rangkaian perayaan hari Natal, 25 Desember, lebih panjang dan tampak lebih semarak. Meskipun aliran lain dalam gereja, ada juga yang menetapkan selain tanggal 1 Januari, di antaranya ada yang merayakan tahun barunya pada tanggal 1 Maret, 25 Maret dan 25 Desember. Tahun baru kaum Bahá'í, dimulai pada 21 Maret, namanya "Naw Ruz". Naw Ruz sendiri diadopsi oleh sekte sesat Bahá'í dari hari besar Yahudi selain 'Asyura (Rosh Hasanah) di bulan Muharram. Naw Rûz biasa diadakan pada akhir tahun.
Jangan Nodai Kesucian Tahun Baru
Inilah yang dihindari oleh khalifah 'Umar RA, mengapa tahun baru Islam lebih mengutamakan nilai ibadat dan jihad dalam penentuan tahun barunya, walaupun ada banyak saran yang berkembang di parlemen kekhalifahan Umar RA, saat itu. Khalifah Umar RA tidak menginginkan adanya hisab nujumi, yaitu hitungan tanggal astrologi alias mujarrabat yang menjadi rahasia penetapan tanggal atau bulan tahun baru syamsiyah/masehi, yang kini banyak dikembangkan oleh para normal. Dari sini timbul keyakinan lokal dan setumpuk harapan yang terkadang melangkahi qadha' dan qadar Allah Ta’ala, selain tindakan mubadzir yang menghiasi semarak tahun baru masehi dengan pesta hura-hura, tiup terompet, ritual lilin, dan yang tak ketinggalan nafsu perut dan bawah perut.
Budaya tasyabbuh yang menghiasi pesta tahun baru masehi sebenarnya ingin mengarahkan kaum muslimin untuk lebih mencintai produk luar Islam dan merasa minder dengan tradisi Islam yang bersendikan nilai tauhid dan jiwa ittiba'. Sekecil apapun bentuknya, tasyabbuh pada akhirnya akan menyeret ummat Islam pada kehinaan dan jiwa kerdil, Nabi SAW?menyebutnya dengan "ja'ala'z-dzillah wa's-shighar." (HR.Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu 'Umar).
Beda penanggalan Islam dengan kalender lain adalah pada awal hari barunya. Hari baru pada penanggalan Masehi dimulai pukul 00.00 waktu setempat atau jam 24.00. Sedangkan hari baru pada penanggalan Hijriyah dimulai sejak tenggelamnya matahari di tempat tersebut, biasa disebut dengan waktu ghurub yang ditandai dengan adzan maghrib.
Puasa Muharram Sebagai Tonggak Peringatan
Dalam kaitan dengan ibadah puasa, muharram adalah bulan di mana Rasulullah SAW menetapkan atas wajibnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram setiap tahun, sebelum turun ayat puasa (al-Baqarah:183-187) pada tahun kedua Hijrah. Jadi puasa 'Asyura yang kemudian berubah menjadi puasa sunnah adalah cikal bakal puasa bulan suci Ramadhan. Nabi SAW bahkan menambahnya lagi dengan puasa Tâsû'â yakni tanggal 9 Muharram, sehingga puasa Muharram lebih utama dikerjakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Dalam hadits Abu Hurairah dari jalan Humaid bin 'Abdirrahman al-Himyari, Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa sebaik-baik puasa sunnah setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan haram, maksudnya bulan Muharram (HR. Muslim, Kitabus Shiam bab: Fadhlu Shaumil Muharram).
Orang Yahudi mempuasakan bulan Muharram, terutama tanggal sepuluhnya, terkait dengan hari pembebasan Bani Israel dari rezim Fir'aun yang tenggelam bersama bala tentaranya di laut merah. Puasa 'Asyura Yahudi mereka warisi dari Nabi Musa, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas r.a. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah SAW. bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah Ta’ala menyelamatkan Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa." Rasulullah SAW. bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian."
Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Puasalah pada hari 'asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum 'asyura dan sehari sesudahnya." (HR Ahmad). Keutamaannya antara lain dapat menghapuskan dosa (kecil) setahun yang lalu. (HR. Muslim). Dan tidak ada keberuntungan yang besar, selain kaffarah dan maghfirah. Karena kunci rahmat dan karunia Allah Ta’ala ada pada pengampunan, bukan malah bikin dosa saat pergantian tahun baru.
Wallahu’alam Bissowab
Abu Taw Jieh Rabbanie
http://dewandakwahjakarta.or.id/index.php/buletin/des10/176-des10.html
Read More......
Apa rahasia dan hikmah penamaan Syahrullah Al-Muharram itu? Ada 2 hikmah, tulis Imam Ibnu Rajab (736-895 H), pertama, sebagai indikator keagungan dan kemuliaan bulan Muharram. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mengharamkan bulan Muharram. Ini hak Allah Ta’ala, yang lain tidak berhak mengotak-atiknya. Namun kenyataannya, bulan-bulan Allah Ta’ala ini telah digeser otoritinya oleh negara sebagai pihak pertama yang bertanggungjawab. Penanggalan Islam kalah populer dipentas politik dan bisnis. Kalender Islam seperti barang baru muncul kemaren sore. Padahal Kalender Julian (Julius Caesar) baru muncul sebelum Nabi Isa AS lahir, kira-kira 45 tahun sebelum Masehi. Kalender Gregorian yang banyak dipakai dewasa ini baru disahkan oleh Paus Gregorius XIII pada 24 Februari 1582, atas saran dari Dr. Aloysius Lilius dari Napoli, Italia. Kedua kalender ini penuh dengan hawa paganism, syirik dan klenik, karena lahir dari rahim gereja.
Berdasarkan At-Taubah:36, dapat disimpullkan bahwa Kalender Islam yang berbasis perhitungan bulan qamariyah adalah kalender tertua dimuka bumi ini dengan umur antara 29 dan 30, tidak ada tanggal 28 atau 31 seperti Gregorian punya. Khalifah Umar (13-23 H) sebagai deklatornya menjadikan Muharram sebagai awal tahun kalender Islam dengan ivent semangat hijrah Nabi SAW. Pelanjutnya Khalifah Utsman (23-35 H) menjadikan Muharram sebagai ketentuan waktu pembayaran zakat mal untuk memudahkan perhitungan khaul dalam setahun. Imam As-Samarqandi (w.150 H/767 M) seorang faqih Hanafiyah membawakan riwayat tentang penetapan Muharram sebagai bulan zakat, saat itu khalifah Utsman mengatakan, "Bulan Muharram adalah bulan ditunaikannya zakat kalian, karena bulan ini ada di awal tahun, dan aku memandangnya sebagai waktu terbaik untuk mengambil zakat kalian." (Abu Laits As-Samarqandi, Al-Muhadzzab, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi. Juz I:204).
Kedua Khulafa'ur-Rasyidin ini tampaknya memiliki harapan besar dengan menjadikan bulan Muharram sebagai munthalaq tajdid atau starting kebangkitan. Khalifah Umar RA dengan pendekatan semangat jihad dan tauhidnya, sementara Khalifah Utsman RA dengan pendekatan kesejahteraan ekonomi. Saat itu tahun baru Islam atau sistem penanggalan Islam tidak ditetapkan dengan mengambil nama 'Tahun Muhammad' atau 'Tahun Umar', sebagaimana yang biasa berkembang dalam tradisi Barat. Kalender Islam justru ingin menghilangkan unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, seperti pada sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani) yang sarat dengan teologi animisme, kultus dan nafas syirik serta keyakinan lokal yang berseberangan dengan semangat tauhid.
Peringatan Tahun Baru 1 Januari atas dasar Kalender Gregorian (Masehi) adalah piur gereja. Beberapa negara Eropa dewasa ini, ada juga yang berbeda waktu dalam merayakan tahun baru. Gereja Orthodok sendiri sebenarnya lebih menyukai pemakaian kalender Julian (Julius Caesar) daripada kalender Gregorian, dari tahun 45 S.M hingga hari ini.
Mengapa 1 Januari dipilih sebagai hari tahun baru? Di antara tujuannya supaya rangkaian perayaan hari Natal, 25 Desember, lebih panjang dan tampak lebih semarak. Meskipun aliran lain dalam gereja, ada juga yang menetapkan selain tanggal 1 Januari, di antaranya ada yang merayakan tahun barunya pada tanggal 1 Maret, 25 Maret dan 25 Desember. Tahun baru kaum Bahá'í, dimulai pada 21 Maret, namanya "Naw Ruz". Naw Ruz sendiri diadopsi oleh sekte sesat Bahá'í dari hari besar Yahudi selain 'Asyura (Rosh Hasanah) di bulan Muharram. Naw Rûz biasa diadakan pada akhir tahun.
Jangan Nodai Kesucian Tahun Baru
Inilah yang dihindari oleh khalifah 'Umar RA, mengapa tahun baru Islam lebih mengutamakan nilai ibadat dan jihad dalam penentuan tahun barunya, walaupun ada banyak saran yang berkembang di parlemen kekhalifahan Umar RA, saat itu. Khalifah Umar RA tidak menginginkan adanya hisab nujumi, yaitu hitungan tanggal astrologi alias mujarrabat yang menjadi rahasia penetapan tanggal atau bulan tahun baru syamsiyah/masehi, yang kini banyak dikembangkan oleh para normal. Dari sini timbul keyakinan lokal dan setumpuk harapan yang terkadang melangkahi qadha' dan qadar Allah Ta’ala, selain tindakan mubadzir yang menghiasi semarak tahun baru masehi dengan pesta hura-hura, tiup terompet, ritual lilin, dan yang tak ketinggalan nafsu perut dan bawah perut.
Budaya tasyabbuh yang menghiasi pesta tahun baru masehi sebenarnya ingin mengarahkan kaum muslimin untuk lebih mencintai produk luar Islam dan merasa minder dengan tradisi Islam yang bersendikan nilai tauhid dan jiwa ittiba'. Sekecil apapun bentuknya, tasyabbuh pada akhirnya akan menyeret ummat Islam pada kehinaan dan jiwa kerdil, Nabi SAW?menyebutnya dengan "ja'ala'z-dzillah wa's-shighar." (HR.Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu 'Umar).
Beda penanggalan Islam dengan kalender lain adalah pada awal hari barunya. Hari baru pada penanggalan Masehi dimulai pukul 00.00 waktu setempat atau jam 24.00. Sedangkan hari baru pada penanggalan Hijriyah dimulai sejak tenggelamnya matahari di tempat tersebut, biasa disebut dengan waktu ghurub yang ditandai dengan adzan maghrib.
Puasa Muharram Sebagai Tonggak Peringatan
Dalam kaitan dengan ibadah puasa, muharram adalah bulan di mana Rasulullah SAW menetapkan atas wajibnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram setiap tahun, sebelum turun ayat puasa (al-Baqarah:183-187) pada tahun kedua Hijrah. Jadi puasa 'Asyura yang kemudian berubah menjadi puasa sunnah adalah cikal bakal puasa bulan suci Ramadhan. Nabi SAW bahkan menambahnya lagi dengan puasa Tâsû'â yakni tanggal 9 Muharram, sehingga puasa Muharram lebih utama dikerjakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Dalam hadits Abu Hurairah dari jalan Humaid bin 'Abdirrahman al-Himyari, Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa sebaik-baik puasa sunnah setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan haram, maksudnya bulan Muharram (HR. Muslim, Kitabus Shiam bab: Fadhlu Shaumil Muharram).
Orang Yahudi mempuasakan bulan Muharram, terutama tanggal sepuluhnya, terkait dengan hari pembebasan Bani Israel dari rezim Fir'aun yang tenggelam bersama bala tentaranya di laut merah. Puasa 'Asyura Yahudi mereka warisi dari Nabi Musa, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas r.a. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah SAW. bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah Ta’ala menyelamatkan Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa." Rasulullah SAW. bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian."
Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Puasalah pada hari 'asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum 'asyura dan sehari sesudahnya." (HR Ahmad). Keutamaannya antara lain dapat menghapuskan dosa (kecil) setahun yang lalu. (HR. Muslim). Dan tidak ada keberuntungan yang besar, selain kaffarah dan maghfirah. Karena kunci rahmat dan karunia Allah Ta’ala ada pada pengampunan, bukan malah bikin dosa saat pergantian tahun baru.
Wallahu’alam Bissowab
Abu Taw Jieh Rabbanie
http://dewandakwahjakarta.or.id/index.php/buletin/des10/176-des10.html
Senin, 30 Agustus 2010
Berbagai Motivasi Orang Beribadah
Bismillah,
Saudara-saudaraku, banyak sekali motivasi orang beribadah. Dari berbagai pengalaman dan cerita, saya merangkum beberapa di antaranya.
Sekedar gugur kewajiban
Ini adalah tingkatan paling bawah (menurut saya). Yg penting sudah selesai mengerjakan, selesai urusan. Tidak dipikir apakah saat ibadah dia bersungguh-sungguh atau apakah ALLOH SWT menerima ibadahnya.
Mencari pahala
Percaya atau tidak, masih banyak di antara kita, bahkan yg sudah tua, menjadikan pahala sebagai tujuan beribadahnya. Tidak heran, jika ada yg berhitung dengan teliti untuk ibadahnya di bulan Ramadhan ini.
Dia berhitung seperti ini. “Saya tidak sholat wajib selama 1 tahun. Berarti saya ketinggalan sholat wajib sebanyak 365x5 = 1825. Di bulan Ramadhan ini, sholat wajib dihitung 10x. Berarti jika saya sholat wajib sebulan penuh (sebanyak 150 kali) dan ditambah sholat sunnah (yg nilainya dianggap sama dg sholat wajib) sebanyak 30 kali, maka saya lunas sudah hutang sholatnya.”
Atau ada juga yg lebih ekstrim. Dia naik haji lalu berhitung bahwa sholat di Masjidil Haram nilainya 100 ribu kali daripada di tempat lain. Otomatis, dia berkesimpulan tidak perlu sholat lagi karena masih punya tabungan.
Berharap surga
Mirip dengan di atas, motivasi ini juga sudah menjadi ‘makanan’ dan tujuan bagi kebanyakan orang. Terlebih jika para ulama dan da’i ikut ‘mengompori’ dengan dalil2 ttg imbalan surga. Klop sudah!
Saya tidak menyalahkan saudara2 saya yg masih menggunakan kedua motivasi atas utk ibadah. Hanya saja, menurut saya, orang yg beribadah karena kedua motivasi di atas mirip dg anak TK/SD yg berharap mendapat imbalan usai berbuat kebaikan.
Motivasi lain yg bisa kita temukan adalah:
Takut neraka
Ada juga orang yg beribadah karena takut dengan neraka. Dia sholat karena takut masuk neraka Saqor. Dia beriman (menjadi muslim) karena takut neraka jahanam.
Orang yg beribadah seperti ini, menurut saya, seperti budak/pembantu. Dia beribadah karena takut dihukum majikannya. Sama seperti motivasi di atas, saya tidak menyalahkan orang yg beribadah karena alasan ini.
‘Berdagang’ dengan ALLOH SWT
Motif ini mirip dg motif mencari pahala. ‘Landasan’ mereka melakukan ini karena menurut mereka ALLOH SWT sendiri ‘menawarkan’ hal ini.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? - (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, - niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash Shaff(61):10-12)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah(2):261)
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,” (Al Hadiid(57):11)
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”(Al Hadiid(57):18)
Adapun menurut saya, motif yg ‘baik’ dan sebaiknya diikuti adalah motif CINTA dan BUKTI BERSYUKUR KEPADA ALLOH SWT.
Jika kita melihat kepada kehidupan Rasululloh SAW, hamba-Nya yg ma’sum dan dijamin masuk surga, beliau tetap banyak beribadah (dan sholat malam). Ketika ditanya oleh istrinya (Aisyah), beliau menjawab bahwa ibadah tersebut dilakukan karena rasa syukur kepada ALLOH SWT.
Jadi, apa motif ibadah anda
http://tausyiah275.blogsome.com/category/hikmah/
Read More......
Saudara-saudaraku, banyak sekali motivasi orang beribadah. Dari berbagai pengalaman dan cerita, saya merangkum beberapa di antaranya.
Sekedar gugur kewajiban
Ini adalah tingkatan paling bawah (menurut saya). Yg penting sudah selesai mengerjakan, selesai urusan. Tidak dipikir apakah saat ibadah dia bersungguh-sungguh atau apakah ALLOH SWT menerima ibadahnya.
Mencari pahala
Percaya atau tidak, masih banyak di antara kita, bahkan yg sudah tua, menjadikan pahala sebagai tujuan beribadahnya. Tidak heran, jika ada yg berhitung dengan teliti untuk ibadahnya di bulan Ramadhan ini.
Dia berhitung seperti ini. “Saya tidak sholat wajib selama 1 tahun. Berarti saya ketinggalan sholat wajib sebanyak 365x5 = 1825. Di bulan Ramadhan ini, sholat wajib dihitung 10x. Berarti jika saya sholat wajib sebulan penuh (sebanyak 150 kali) dan ditambah sholat sunnah (yg nilainya dianggap sama dg sholat wajib) sebanyak 30 kali, maka saya lunas sudah hutang sholatnya.”
Atau ada juga yg lebih ekstrim. Dia naik haji lalu berhitung bahwa sholat di Masjidil Haram nilainya 100 ribu kali daripada di tempat lain. Otomatis, dia berkesimpulan tidak perlu sholat lagi karena masih punya tabungan.
Berharap surga
Mirip dengan di atas, motivasi ini juga sudah menjadi ‘makanan’ dan tujuan bagi kebanyakan orang. Terlebih jika para ulama dan da’i ikut ‘mengompori’ dengan dalil2 ttg imbalan surga. Klop sudah!
Saya tidak menyalahkan saudara2 saya yg masih menggunakan kedua motivasi atas utk ibadah. Hanya saja, menurut saya, orang yg beribadah karena kedua motivasi di atas mirip dg anak TK/SD yg berharap mendapat imbalan usai berbuat kebaikan.
Motivasi lain yg bisa kita temukan adalah:
Takut neraka
Ada juga orang yg beribadah karena takut dengan neraka. Dia sholat karena takut masuk neraka Saqor. Dia beriman (menjadi muslim) karena takut neraka jahanam.
Orang yg beribadah seperti ini, menurut saya, seperti budak/pembantu. Dia beribadah karena takut dihukum majikannya. Sama seperti motivasi di atas, saya tidak menyalahkan orang yg beribadah karena alasan ini.
‘Berdagang’ dengan ALLOH SWT
Motif ini mirip dg motif mencari pahala. ‘Landasan’ mereka melakukan ini karena menurut mereka ALLOH SWT sendiri ‘menawarkan’ hal ini.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? - (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, - niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash Shaff(61):10-12)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah(2):261)
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,” (Al Hadiid(57):11)
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”(Al Hadiid(57):18)
Adapun menurut saya, motif yg ‘baik’ dan sebaiknya diikuti adalah motif CINTA dan BUKTI BERSYUKUR KEPADA ALLOH SWT.
Jika kita melihat kepada kehidupan Rasululloh SAW, hamba-Nya yg ma’sum dan dijamin masuk surga, beliau tetap banyak beribadah (dan sholat malam). Ketika ditanya oleh istrinya (Aisyah), beliau menjawab bahwa ibadah tersebut dilakukan karena rasa syukur kepada ALLOH SWT.
Jadi, apa motif ibadah anda
http://tausyiah275.blogsome.com/category/hikmah/
Senin, 03 Mei 2010
KISAH CINTA DAN PENGORBANAN "MEREKA" Upaya Aktualisasi Dalam Kehidupan Modern
Mereka Adalah Ibrahim Dan Ismail
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”(QS. Asshaffat: 102 )
Secuil kisah dan diskusi pendek seorang ayah dengan anak semata wayangnya yang di abadikan dalam al-Quran. Sebuah pertanyaan sederhana namun lahir dari hati yang penuh cinta, lama memendam rindu dan mendambakan buah hati dari waktu ke waktu. Ya, buah hati yang diharapkan menjadi pelipur lara, penyejuk jiwa dan penerus perjuangan menggapai ridha-Nya. Dialah Ibrahim, sang khalil, kekasih Tuhan.
Akhirnya, Allah SWT. memberikan karunia-Nya kepada Ibrahim yaitu dengan lahirnya Ismail dari rahim istrinya. Ibrahim gembira, bahagia tiada tara dan dengan begitu, berarti mimpi indah itu kini benar-benar jadi kenyataan, permohonannya terkabulkan dan harapannya tak disia-siakan oleh Tuhan.
Ismail tumbuh sebagai anak yang cakap, cerdas, patuh dan saleh juga segudang kelebihan lain yang tak dimiliki anak sebayanya. Tapi siapa sangka setelah dia mencapai usia yang sangat menyenangkan, Tuhan memerintahkan Ibrahim menyembelihnya, Ismail, seorang anak yang sekian lama didambakan.
Sejenak, mari kita berpikir dan merenung “ Bagaimana seandainya kita berada di pihak Ibrahim ketika itu”. Siapkah kita mengerjakan perintah-Nya? Relakah kita kehilangan orang yang kita cinta tanpa alasan yang jelas? Belum tentu. Itulah jawaban yang sangat mungkin (kalau tidak mau dikatakan seratus persen tidak). Apalagi jika melihat realita kehidupan kita sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita lebih terpesona oleh gemerlap dunia bahkan tidak jarang menganggap cinta adalah segalanya.
Lain halnya dengan Ibrahim. Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menyoal dan mempermasalahnkan keputusan Tuhan. Tak pernah dia bertanya: “Tuhan, mengapa Engkau memerintahkan demikian? Bukan-kah Engkau tahu bahwa Ismail adalah tambatan hatiku?”. Malah dengan sangat bijak, demokratis, lembut dan penuh kasih dia ceritakan perihal wahyu tersebut pada Ismail: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?!" Dengan tidak kalah menejutkan, tanpa ragu-ragu Ismail menjawab:” "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” Selanjutnya, “ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman". Demikian al-Qur’an berkisah tentang cinta dan pengorbanan mereka yang pada gilirannya kita dapat mengenal istilah “berkurban” dalam Islam dan tentunya hal itu juga bisa kita jadikan upaya mengenang peristiwa besar tersebut.
Belajar Cinta
Dalam sejarah kehidupan, cinta bukanlah hal baru tapi uniknya, ia tak pernah basi dibicarakan. Sejak zaman manusia mengenal kehidupan, sampai sekarang, bahkan sampai kiamat sekalipun cinta akan selalu menarik dibahas. Cinta adalah pembunuh, cinta adalah penderitaan, cinta adalah buta, cinta adalah… adalah… dan seterusnya… demikian manusia mendefinisikan dan mempersepsikan cinta semata-mata menurut yang mereka rasa, pengalaman pribadi maupun orang lain. Namun tak ada satupun definisi atau persepsi tentang cinta yang cukup mampu menyingkap kesejatian dan menjelaskan maknanya yang terdalam.
Nah, Islam hadir di tengah-tengah umat manusia dengan segala petunjuk yang sangat nyata, cahaya yang begitu terang dan aturannya yang mencakup segala aspek kehidupan menembus ruang dan waktu, tentunya tanpa terkecuali masalah cinta sekalipun tak luput dari perhatiannya. Islam menempatkan cinta sebagai anugerah agung, pemberian yang harganya tak ternilai dan karunia yang tak mungkin diperjual-belikan. Bahkan, dengan tegas menjadikan cinta sebagai salah satu barometer kesempurnaan iman seorang muslim; sebagaimana disebutkan dalam hadits:" tidak beriman salah seorang dari kalian sebelum ia mencintai saudaranya sebagaiman ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari no. 13, Muslim no. 45).
Jadi, Islam tak pernah melarang siapapun mencinta dan dicinta, merindu dan dirindu selama rasa itu tidak ditempatkan di atas cinta pada Pemiliknya, dan selama sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh-Nya. karena hanya cinta kepada dan karena Allah-lah yang akan membawa pada kebahagiaan yang hakiki sekaligus mengantarkan pada kenikmatan sorgawi dan menuntun mencapai cinta sejati.Atau meminjam istilah Aluf Labini yaitu “cinta yang tak akan pupus oleh waktu, tak akan lapuk oleh panasnya sinar mentari juga tak akan terombang-ambing oleh kerasnya ombak dan badai kehidupan”. Cinta model inilah yang dipraktekan dan dimiliki oleh Ibrahim dan Ismail. Keduanya sadar bahwa penempatan yang salah hanya akan menyengsarakan, mengalirkan air mata penyesalan dan seterusnya. Dalam alQur’an Allah berfirman: “Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. At Taubah: 24). Oleh karena itu, tidak heran kiranya jika keduanya mendapat pujian langsung dari Allah dan kisahnya pun diabadikan dalam firmannya, al-Quran.
Nilai Sebuah Pengorbanan
Kata orang, "Ungkapan cinta akan hampa tanpa makna saat ia hanya di bibir saja". Tanpa harus memperdebatkan validilitas ungkapan tersebut ataupun mencoba mempertanyakan sumbernya, barangkali tidak salah jika kita meng-iyakan, mengingat kenyataan di lapangan bahwa “hampir” setiap orang dengan mudahnya berbicara ketulusan, bersyair tentang kerinduan dan mengungkapkan kata-kata cinta di hadapan pujaan hatinya. Tapi apakah semua itu cukup membuktikan kebenaran isi hati juga perasaan yang tersembunyi? Ternyata tidak. Cinta masih membutuhkan banyak hal, termasuk sebuah pengorbanan. Contoh, sebagai bukti kebesaran cinta Ibrahim kepada Allah, dia rela mengorbankan segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Demikian pula dengan Ismail, demi cintanya kepada Allah dan ketulusan bakti pada sang ayahanda dia rela mengorbankan nyawanya. Subhanallah! Padahal, perintah penyembelihan hanya sebatas mimpi. Tidak lebih. Benar apa yang disebutkan dalam salah satu syair Arab yang artinya: “ Andaikan cintamu tulus nan sejati pasti engkau akan taat kepada-Nya karena sang pecinta akan taat pada yang dicinta”.
Sekali lagi, ini berarti, kata-kata saja tidak cukup, masih butuh bukti, ketulusan dan pengorbanan juga hal lain. Dengan bukti kita akan dipercaya, dengan ketulusan kita akan jauh dari keterpaksaan lalu dengan pengorbanan kita telah menghilangkan segala keraguan yang masih bersemayam.
Aktualisasi Dalam Kehidupan
Berharap kembali ke masa lalu tidak ubahnya seperti berharap mengembalikan mata air ke sumbernya, memutar jarum jam ke belakang atau menarik matahari ke arah dari mana ia terbit. Tapi bukan hal tak mungkin jika kita akan mencapai hal yang sama (atau paling tidak mendekati) jika menempuh jalan atau cara yang sama pula. Kaitannya masalah ini dengan kisah di atas adalah, kita memang tidak mungkin menghadirkan Ibrahim dan Ismail ke zaman kita sekarang atau sebaliknya kita bermaksud kembali ke zaman mereka. Tapi tidak mustahil kita juga akan mendapat pujian dari Allah SWT. dan menggapai cinta-Nya jika kita berusaha meniru mereka berdua yang pada akhirnya akan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki sekaligus mengantarkan kita pada kenikmatan sorgawi dan menuntun kita mencapai cinta sejati, seperti mereka.
Sebagai hamba, keduanya telah mengajari kita tentang cinta dan cara menempatkannya secara tepat dan benar; membedakan cinta kepada Allah SWT. Denga makhluk-Nya. Sekuat dan sebesar apa pun cinta kepada mkhluk tak pernah sedikit pun membuat terlena, buta, lupa, apalagi mengabaikan perintah-Nya. Kok bisa? Karena mereka telah berhasil menghadirkan “eksistensi” Tuhan dalam jiwa dan hati mereka sehingga untuk berkorban akan terasa mudah dan istilah ketulusan jadinya tidak hanya isapan jempol belaka.
“Yaa Bunayya”, hai anak ku. Begitulah Ibrahim menyapa Ismail, ungkapan lembut penuh kasih. Sebagai seorang ayah, dia telah mengajarkan keterbukaan, sikap demokrasi dengan segala sentuhan dari hati ke hati sehingga dia berhasil menanamkan sikap dewasa dalm jiwa Ismail, juga menanamkan butir-butir ketulusan cinta dalam hatinya sejak usia dini.
Ismail sendiri? Ternyata tidak jauh beda. Konon, sebelum acara penyembelihan di laksanakan, dia berpesan:” Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya." Lagi-lagi, subhanallah! Dan biarlah hati dan jiwa kita sajalah yang mengomentari ketulusan kata-kata ini.
Dan untuk selanjutnya, marilah kita bertanya pada hati kita masing-masing, atau paling tidak berandai-andai barang sebentar: “ Seandainya seluruh hamba layaknya mereka berdua? “seandainya cemua ayah adalah Ibrahim dan semua anak memiliki karakter sama seperti Ismail, betapa indahnya kehidupan dunia ini?”
Salam, ad. Is-Di.
Read More......
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”(QS. Asshaffat: 102 )
Secuil kisah dan diskusi pendek seorang ayah dengan anak semata wayangnya yang di abadikan dalam al-Quran. Sebuah pertanyaan sederhana namun lahir dari hati yang penuh cinta, lama memendam rindu dan mendambakan buah hati dari waktu ke waktu. Ya, buah hati yang diharapkan menjadi pelipur lara, penyejuk jiwa dan penerus perjuangan menggapai ridha-Nya. Dialah Ibrahim, sang khalil, kekasih Tuhan.
Akhirnya, Allah SWT. memberikan karunia-Nya kepada Ibrahim yaitu dengan lahirnya Ismail dari rahim istrinya. Ibrahim gembira, bahagia tiada tara dan dengan begitu, berarti mimpi indah itu kini benar-benar jadi kenyataan, permohonannya terkabulkan dan harapannya tak disia-siakan oleh Tuhan.
Ismail tumbuh sebagai anak yang cakap, cerdas, patuh dan saleh juga segudang kelebihan lain yang tak dimiliki anak sebayanya. Tapi siapa sangka setelah dia mencapai usia yang sangat menyenangkan, Tuhan memerintahkan Ibrahim menyembelihnya, Ismail, seorang anak yang sekian lama didambakan.
Sejenak, mari kita berpikir dan merenung “ Bagaimana seandainya kita berada di pihak Ibrahim ketika itu”. Siapkah kita mengerjakan perintah-Nya? Relakah kita kehilangan orang yang kita cinta tanpa alasan yang jelas? Belum tentu. Itulah jawaban yang sangat mungkin (kalau tidak mau dikatakan seratus persen tidak). Apalagi jika melihat realita kehidupan kita sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita lebih terpesona oleh gemerlap dunia bahkan tidak jarang menganggap cinta adalah segalanya.
Lain halnya dengan Ibrahim. Tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menyoal dan mempermasalahnkan keputusan Tuhan. Tak pernah dia bertanya: “Tuhan, mengapa Engkau memerintahkan demikian? Bukan-kah Engkau tahu bahwa Ismail adalah tambatan hatiku?”. Malah dengan sangat bijak, demokratis, lembut dan penuh kasih dia ceritakan perihal wahyu tersebut pada Ismail: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?!" Dengan tidak kalah menejutkan, tanpa ragu-ragu Ismail menjawab:” "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” Selanjutnya, “ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman". Demikian al-Qur’an berkisah tentang cinta dan pengorbanan mereka yang pada gilirannya kita dapat mengenal istilah “berkurban” dalam Islam dan tentunya hal itu juga bisa kita jadikan upaya mengenang peristiwa besar tersebut.
Belajar Cinta
Dalam sejarah kehidupan, cinta bukanlah hal baru tapi uniknya, ia tak pernah basi dibicarakan. Sejak zaman manusia mengenal kehidupan, sampai sekarang, bahkan sampai kiamat sekalipun cinta akan selalu menarik dibahas. Cinta adalah pembunuh, cinta adalah penderitaan, cinta adalah buta, cinta adalah… adalah… dan seterusnya… demikian manusia mendefinisikan dan mempersepsikan cinta semata-mata menurut yang mereka rasa, pengalaman pribadi maupun orang lain. Namun tak ada satupun definisi atau persepsi tentang cinta yang cukup mampu menyingkap kesejatian dan menjelaskan maknanya yang terdalam.
Nah, Islam hadir di tengah-tengah umat manusia dengan segala petunjuk yang sangat nyata, cahaya yang begitu terang dan aturannya yang mencakup segala aspek kehidupan menembus ruang dan waktu, tentunya tanpa terkecuali masalah cinta sekalipun tak luput dari perhatiannya. Islam menempatkan cinta sebagai anugerah agung, pemberian yang harganya tak ternilai dan karunia yang tak mungkin diperjual-belikan. Bahkan, dengan tegas menjadikan cinta sebagai salah satu barometer kesempurnaan iman seorang muslim; sebagaimana disebutkan dalam hadits:" tidak beriman salah seorang dari kalian sebelum ia mencintai saudaranya sebagaiman ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari no. 13, Muslim no. 45).
Jadi, Islam tak pernah melarang siapapun mencinta dan dicinta, merindu dan dirindu selama rasa itu tidak ditempatkan di atas cinta pada Pemiliknya, dan selama sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh-Nya. karena hanya cinta kepada dan karena Allah-lah yang akan membawa pada kebahagiaan yang hakiki sekaligus mengantarkan pada kenikmatan sorgawi dan menuntun mencapai cinta sejati.Atau meminjam istilah Aluf Labini yaitu “cinta yang tak akan pupus oleh waktu, tak akan lapuk oleh panasnya sinar mentari juga tak akan terombang-ambing oleh kerasnya ombak dan badai kehidupan”. Cinta model inilah yang dipraktekan dan dimiliki oleh Ibrahim dan Ismail. Keduanya sadar bahwa penempatan yang salah hanya akan menyengsarakan, mengalirkan air mata penyesalan dan seterusnya. Dalam alQur’an Allah berfirman: “Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. At Taubah: 24). Oleh karena itu, tidak heran kiranya jika keduanya mendapat pujian langsung dari Allah dan kisahnya pun diabadikan dalam firmannya, al-Quran.
Nilai Sebuah Pengorbanan
Kata orang, "Ungkapan cinta akan hampa tanpa makna saat ia hanya di bibir saja". Tanpa harus memperdebatkan validilitas ungkapan tersebut ataupun mencoba mempertanyakan sumbernya, barangkali tidak salah jika kita meng-iyakan, mengingat kenyataan di lapangan bahwa “hampir” setiap orang dengan mudahnya berbicara ketulusan, bersyair tentang kerinduan dan mengungkapkan kata-kata cinta di hadapan pujaan hatinya. Tapi apakah semua itu cukup membuktikan kebenaran isi hati juga perasaan yang tersembunyi? Ternyata tidak. Cinta masih membutuhkan banyak hal, termasuk sebuah pengorbanan. Contoh, sebagai bukti kebesaran cinta Ibrahim kepada Allah, dia rela mengorbankan segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Demikian pula dengan Ismail, demi cintanya kepada Allah dan ketulusan bakti pada sang ayahanda dia rela mengorbankan nyawanya. Subhanallah! Padahal, perintah penyembelihan hanya sebatas mimpi. Tidak lebih. Benar apa yang disebutkan dalam salah satu syair Arab yang artinya: “ Andaikan cintamu tulus nan sejati pasti engkau akan taat kepada-Nya karena sang pecinta akan taat pada yang dicinta”.
Sekali lagi, ini berarti, kata-kata saja tidak cukup, masih butuh bukti, ketulusan dan pengorbanan juga hal lain. Dengan bukti kita akan dipercaya, dengan ketulusan kita akan jauh dari keterpaksaan lalu dengan pengorbanan kita telah menghilangkan segala keraguan yang masih bersemayam.
Aktualisasi Dalam Kehidupan
Berharap kembali ke masa lalu tidak ubahnya seperti berharap mengembalikan mata air ke sumbernya, memutar jarum jam ke belakang atau menarik matahari ke arah dari mana ia terbit. Tapi bukan hal tak mungkin jika kita akan mencapai hal yang sama (atau paling tidak mendekati) jika menempuh jalan atau cara yang sama pula. Kaitannya masalah ini dengan kisah di atas adalah, kita memang tidak mungkin menghadirkan Ibrahim dan Ismail ke zaman kita sekarang atau sebaliknya kita bermaksud kembali ke zaman mereka. Tapi tidak mustahil kita juga akan mendapat pujian dari Allah SWT. dan menggapai cinta-Nya jika kita berusaha meniru mereka berdua yang pada akhirnya akan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki sekaligus mengantarkan kita pada kenikmatan sorgawi dan menuntun kita mencapai cinta sejati, seperti mereka.
Sebagai hamba, keduanya telah mengajari kita tentang cinta dan cara menempatkannya secara tepat dan benar; membedakan cinta kepada Allah SWT. Denga makhluk-Nya. Sekuat dan sebesar apa pun cinta kepada mkhluk tak pernah sedikit pun membuat terlena, buta, lupa, apalagi mengabaikan perintah-Nya. Kok bisa? Karena mereka telah berhasil menghadirkan “eksistensi” Tuhan dalam jiwa dan hati mereka sehingga untuk berkorban akan terasa mudah dan istilah ketulusan jadinya tidak hanya isapan jempol belaka.
“Yaa Bunayya”, hai anak ku. Begitulah Ibrahim menyapa Ismail, ungkapan lembut penuh kasih. Sebagai seorang ayah, dia telah mengajarkan keterbukaan, sikap demokrasi dengan segala sentuhan dari hati ke hati sehingga dia berhasil menanamkan sikap dewasa dalm jiwa Ismail, juga menanamkan butir-butir ketulusan cinta dalam hatinya sejak usia dini.
Ismail sendiri? Ternyata tidak jauh beda. Konon, sebelum acara penyembelihan di laksanakan, dia berpesan:” Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya." Lagi-lagi, subhanallah! Dan biarlah hati dan jiwa kita sajalah yang mengomentari ketulusan kata-kata ini.
Dan untuk selanjutnya, marilah kita bertanya pada hati kita masing-masing, atau paling tidak berandai-andai barang sebentar: “ Seandainya seluruh hamba layaknya mereka berdua? “seandainya cemua ayah adalah Ibrahim dan semua anak memiliki karakter sama seperti Ismail, betapa indahnya kehidupan dunia ini?”
Salam, ad. Is-Di.
Langganan:
Postingan (Atom)