Halaman

Tampilkan postingan dengan label Catatan Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Khusus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Mei 2010

CINTA DAN DUNIA MAYA (Sebuah Langkah Antisipasi Menjadi Korban Kepalsuan)

Saya khawatir, orang-orang modern nantinya akan berkesimpulan bahwa hanya ada dua dunia dalam kehidupan ini; dunia nyata, dan dunia maya. Terlepas dari apakah saya akan dianggap berlebihan atau tidak, yang jelas kekhawatiran saya bukan tanpa alasan. Kekhawatiran tersebut berangkat dari fenomena maraknya penyediaan situs jejaring sosial di internet dengan berbagai fitur tambahan yang cukup menarik, seperti “chatiing” dan lain sebagainya (baca: facebook, yahoo messenger, twitter, dll.).
Memang perlu diakui, bahwa hal-hal tersebut banyak membantu mempermudah beberapa urusan kita. Dengan adanya situs jejaring sosial, kita akan mudah bertemu dengan teman lama, sekaligus mudah mendapat teman baru, juga kemudahan-kemudahan lainnya.
Intinya, kalau sudah masuk pada wilayah ini, kita tidak usah lagi repot-repot memikirkan jarak yang jauh, waktu yang berbeda dan seterusnya… Karena semua itu tidak jadi penghambat untuk selalu berhubungan. Sekalipun lawan bicara kita berda di belahan bumi selatan, dan kita di belahan bumi utara komunikasi akan lancar-lancar saja, bahkan ‘seperti’ secara langsung bertatap muka. Begitu juga, seandainya kita berada di belahan bumi barat dan kita berada di belahan bumi timur tidak jadi faktor penghambat untuk saling berbagi kisah, curhat, dan lain-lain. Ya, ini merupakan satu dari sekian bukti kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang komunikasi.

Ajang Tebar Pesona?
“g’ tw gw, mw kmn lo?, atut, akum, waskum,…,” ini adalah beberapa contoh kata dan kalimat yang pertama kali saya mengenalnya dari dunia maya (baca: cahtting). singkat, padat, tapi cukup mewakili isi hati untuk disampaikan dan dipahami orang lain. Dan di dunia maya ini pula baru saya tahu bahwa ada seseorang yang –menurut pengakuannya punya nikname lebih dari seratus. Luar biasa dan aneh menurut saya ketika itu, tapi begitulah kenyataanya. Sama nyatanya dengan adanya nikname yang lumayan bikin geli, senyum sendiri, dan terkadang menjengkelkan; sebut saja nikname: juzt_hujan, siapa_aQ35, dan sejenisnya.
Kenyataan ini mungkin bagi kita wajar-wajar saja. Tidak ada masalah sedikit pun. Tidak melanggar HAM dan seterusnya… Tapi bagaimana pun, kita sama sekali tidak bisa memungkiri kenyataan lain bahwa apa yang tidak pernah kita anggap masalah, ternyata sudah banyak “menelan korban.” Dalam artian, ternyata beberapa situs jejaring dengan berbagi pelayanan menariknya tersebut seringkali dijadikan ajang tebar pesona diri (lebih khusunya pada lawan jenis). Banyak dari para user dan chatter yang dengan sengaja menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya. Bahkan tidak jarang mereka malah mengobral murah kata-kata cinta, mengungkapkan rasa yang tak pernah ada, menampakkan yang tidak sesungguhnya, bersyair tentang kerinduan, berpuisi tentang dalamnya perasaan, dan bala, bla, bla… tentunya untuk mendapatkan mangsa, alih-alih memang yang jadi incaran. Ironisnya, tidak sedikit yang terkena jerat. Banyak hati yang ternoda karenanya. Banyak harapan muncul pada hal yang sejatinya belum pasti. Banyak mimpi-mimpi indah lahir semata karena rayuan gombal belaka.
Siapa yang salah dalam kasus ini? Menyalahkan barangkali bukan pilihan paling tepat. Menylahkan saja tidak cukup merubah keadaan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita lebih baik, dan mempersembahkan yang terbaik buat diri sendiri dan semuanya. Sudah terlalu banyak “korban” di antara kita. Dan parahnya lagi, ternyata kita juga pelakunya.

Untuk Saya, Anda, Dia, dan Semuanya
Tulisan saya ini tidak dimaksudkan menyama-ratakan setiap user dan chatter. Masih tak terhitung kok mereka yang punya niat mulia, dan berangkat dari ketulusan; misalnya, tujuan dakwah, belajar agama dan lain sebagainya. Saya tidak pernah bernggapan bahwa dunia maya hanya dipenuhi kebohongan, kepalsuan dan jauh dari nilai-nilai kesejatian, seperti yang dituduhkan banyak orang (?)
Perlu diakui, bahwa kehadiran cinta ‘seringkali’ tidak pernah kita duga. Di mana pun dan kapan pun ia bisa hadir tanpa kita rencanakan sebelumnya, termasuk di dunia maya. Hanya saja, barangkali (kalau tidak mau dikatakan seratus persen iya) sangat tidak bijak, jika dunia maya jadi “pilhan” mencari ketulusan dan kesucian. Sangat tidak dewasa jika kita terlalu larut dalam dunia yang tak nyata. Sangat di sayangkan jika kita mencari kesejatian cinta di dunia yang seringkali dikaitkan dengan ketidak pastian ini. Toh, walaupun tidak menutup kemungkinan kita akan mendapatinya di sana.
Selain itu, bisa saja barang yang menurut kita adalah mutiara, namun sebenarnya ia tidak lebih dari beling yang pada gilirannya malah akan membuat kita terluka. Bukan tidak mungkin, barang yang kita kagumi saat ini sejatinya adalah racun dengan merk madu yang nantinya hanya akan membuat kita binasa. dan, bukan hal mustahil, jika ternyata mimpi yang selama ini menghiasi kita pada dasarnya tidak lebih dari sekedar mimpi belaka.
Memang manusiawi dan sah-sah saja bila mata kita ‘biru’ oleh barang “mewah”, “necis”, dan berlabel “wah!”. Tapi bagaimanapun kita harus tetap waspada dan pilah-pilih, sebab –meminjam istilah yang dipakai oleh KH. Zainuddin MZ., “penmapilan tidak selamanya mencerminkan keaslian.” Apalagi jika “cinta” dan semua rasa itu memang berangkat dari pamrih, yakni harapan sebatas ketampanan kecantikan, karena ia akan hilang seiring berjalannya waktu, akan lapuk oleh panasnya mentari yang selalu menyinari, akan kusut oleh derasnya hujan yang selalu menyirami, dan akan terambang-ambing oleh kerasnya ombak dan badai kehidupan, sebagaimana, dauh Ustadz Aluf Labini dalam salah satu tulisannya: “Cinta karena mengharapkan ketampanan dan kecantikan akan musnah ketika yang diharapakan telah tiada”.
Jadi, pada dasarnya hanya ada dua pilihan dalam hidup ini: baik dan buruk. Benar dan salah. Terserah kita mau pilih yang mana. Yang jelas tiap pilihan pasti dengan konskuensinya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan perasaan di hati, selama kita menempatkannya segara benar dan sesuai ketentuan Ilahi.
Salam, ad. Is-Di.
Read More......

Senin, 03 Mei 2010

EMANSIPASI WANITA, APANYA YANG SALAH?

“Ibu kita Kartini putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya….”
Sebuah penggalan lagu wajib anak-anak sekolah semenjak usia dini. Ya, sebuah lagu yang dicipta khusus mengenang seorang pahlawan yang bercita-cita luhur seputar kehidupan kaum perempuan. Dialah ibu kita Kartini, seoarang putri Indonesia yang sampai kini harum namanya dan dikenang oleh generasi setelahnya. Dia dikenal sebagai pahlawan yang gigih berjuang mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan yang kala itu masih dipandang senelah mata. Dia berusaha meyakinkan bangsanya bahwa kaum permpuan memiliki hak yang sama, “bebas”, tidak dikekang sebagaimana kaum laki-laki. Tidak boleh di-anaktiri-kan. Tidak boleh diperlakukan semena-mena, dicekal dan dikurung dalam rumah….

Melihat kenyataan ini, barangkali tidak salah jika dia dinobatkan sebagai pahlawan karena keberaniannya yang begitu mengangumkan. Keberanian yang pada masanya dianggap tabu, bermasalah, tidak wajar dan menyalahi tradisi atau tatanan hidup yang sudah mapan.

Kartini dan Isu Emansipasi Wanita
Terlepas dari apa dan siapa yang telah mengilhami dan menginspirasi Kartini, yang jelas kisah hidupnya yang penuh perjuangan dan pemikiran untuk selalu membela kaum perempuan dan mengangkis mereka dari ketertinggalan ternyata tidak sia-sia, dan tidak hanya menjadi kisah yang hilang begitu saja seiring berjalannya waktu. Tapi cukup memberi pengaruh yang sangat besar dan meluas serta direspon positif oleh berbagai golongan. Hal ini terbukti dengan kenyataan bahwa dalam berbagai forum pertemuan -baik formal maupun non formal, seringkali tidak pernah lepas dari pembahasan seputar emansipasi wanita. Di mana-mana sering kita dengar suara lantang dengan mengusung sebuah jargon,”menjungjung tinggi hak dan martabat kaum perempuan”. Di sana-sini juga menyuarakan hal yang sama, toh walaupun dengan cara yang berbeda, misalnya, berangkat dari istilah HAM (Hak Asasi Manusia), kesetaraan gender dan lain sebagainya.
Lalu apanya yang salah dengan yang mereka lakukan? Pada dasarnya memang tidak ada yang salah dengan upaya membela kaum yang lemah dan menolong mereka yang teraniaya tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Tidak salah menunutut keadilan. Sama sekali tidak salah asalkan dengan cara yang benar. Bahkan bisa jadi sebuah keharusan dan perlu diperjuangkan. Hanya saja banyak hal yang perlu digaris bawahi dari apa yang telah mereka perjuangkan selama ini. Tentunya jika melihat kenyataan di lapangan.
Apa yang mereka perjuangkan atas nama emansipasi wanita, HAM, kesetaraan gender malah sering kali kebablasan, yang pada gilirannya senboyan atau jargon “menjunjung tinggi hak dan martabat kaum perempuan”, membela kaum yang tertindas dan sebagainya pun kian kabur. Bahkan tidak jarang terkesan hanya memperkeruh suasana dan menambah masalah di masyarakat. Seperti terkait berpenampilan lawan jenis, budaya buka-bukaan, pamer aurat, menjajakan diri yang semakin hari kian menjamur. Kebebasan dan kesetaraan gender yang mereka gembar-gemborkan seakan tanpa batas. Ironisnya lagi, banyak yang sampai berani menggugat aturan yang sudah jelas sakral (baca: agama). Diantara contoh yang paling mencolok dalam masalah ini adalah yang berhubungan dengan hak warits, dan nikah beda agama. Dalam hak warits, mereka menuntut kesama-rataan dalam pembagiannya. Dalam masalah nikah beda agama, mereka menghendaki kebebasan sepenuhnya.

So?
Sebenarnya, dalam Islam sama sekali tidak ada deskriminasi terhadap kaum perempuan. Tidak memandang mereka sebelah mata. Tidak merendahkan apalagi menghinakan mereka. Islam malah sangat memuliakan, dan menjujnjung tinggi harkat dan martabat mereka. Ini terbukti misalnya dengan ajarannya yang sangat luhur supaya seorang anak harus memperlakukan orang tuanya secara baik, sampai-sampai kita mengenal, “sorga berada di bawah telapak kaki ibu” dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan ketidak-samaan dalam pembagian hak warits dan larangan nikah beda agama? Mana letak keadilan Islam? Kalau kita mau jujur, sebenarnya dengan adanya aturan tersebut keadilan Islam lebih tampak. Islam menempatkan manusia secara proposional. Di tempat yang selayaknya. Yang sesuai dengan kodratnya masing-masing.
Jadi, sangat tidak pantas jika kita masih meragukan keadilan agama. Tidak perlulah kaum permpuan berotot layaknya kaum laki-laki karena memang kodrat mereka seperti itu. Dan tidak perlu pula pusing-pusing, kesana-kemari menunutut kesamaan hak warits, wong pada prinsipnya mereka tidak berkewajiban menafkahi keluarganya. Beda dengan kaum laki-laki, mereka dibebani kewajiban tersebut. Ringkasnya, maklumlah jika karena alasan yang demikian Islam kemudian melebihkan mereka dalam pembagian hak warits. Demikian pula dengan masalah adanya larangan nikah beda agama, yakni kaum muslim dilarang menikah dengan non muslim, selain dari kalangan ahli kitab. Yang diperbolehkan dari kalngan ahli kitab sekalipun tidak lepas dari beberapa syarat yang harus dipenuhi; antara lain, harus laki-lakinya yang muslim, dan tidak boleh jika sebaliknya.
Kesimpulannya adalah, bahwa setiap aturan, perintah dan larangan agama tidak pernah lepas dari hikmah dan untuk kebaikan manusia itu sendiri. Allahu a’la.

Salam, Ad. Is-Di.
Read More......